Senin, 06 Agustus 2018

Keinginan Untuk Ber-Zero Waste

Dulu aku pikir membuang sampah pada tempatnya sudah cukup. Yang penting lingkungan bersih, maka sudah termasuk sebagian iman. Ternyataaa.. menggunakan barang-barang sekali pakai itu juga salah satu kategori nyampah. Contoh benda sekali pakai itu tisu, sedotan, tempat makan stryrofoam, kantong plastik, pembalut, popok.  Benda-benda yang sebenarnya bisa kita hindari dengan cara mencari alternatif lain. Ganti tisu dengan lap kain, sedotan plastik dengan alumunium, dsb.

Pertama kali mulai aware dengan dunia zero waste (bebas sampah) ini dari akun-akun Instagram dan blog. Keren aja liat orang yang mau segitu usahanya untuk membuat perubahan yang lebih baik buat lingkungan. Orang-orang yang bikin aku optimis bahwa didunia ini masih banyak banget orang baik. Orang yang nggak cuma memikirkan diri mereka sendiri. Nggak egois.

Aku lihat sekarang orang sudah mulai banyak juga yang mengadopsi gaya hidup ini. Dibilang ikut-ikutan juga nggak papa sih, kan buat kebaikan. Nggak cuma di Indonesia, diluar sana bahkan ada yang lebih ekstrim lagi. Cuma menghasilkan sampah sebanyak botol selai kecil selama bertahun-tahun. Gilaaaa



Terus.. kenapa judul postingan ini "keinginan"? Hehehe.. itu karena aku masih dalam tahap menuju kesana. Ibaratnya kalo dikasih persentase, masih 10% kali... Memang lebih ribet dibandingkan habis pake langsung buang. Ribetnya itu ya mesti dicuci sendiri, mesti menyisihkan uang buat beli alat-alat yang lebih tahan lama. Beda dengan plastik yang kalo sudah selesai ya buang aja.

Hal-hal yang sudah/sedang aku lakukan dalam rangka zero waste :
  • Mengganti kapas dengan reusable cotton face round (beli di @resikrai)
  • Membawa wadah sendiri saat membeli makan
  • Menggunakan tisu sesedikit mungkin. Pengen sih ganti ke sapu tangan. Secepatnya nih!
  • Dihari-hari terakhir menstruasi, sebisa mungkin tidak menggunakan pembalut. Sebenarnya pengen pakai menstrual cup gitu tapi aku takut. Lagian belum nikah, kan.. jadi takut kenapa-kenapa soalnya cara pakainya harus dimasukkan ke vagina. Jadi aku masih pakai pembalut biasa. Mungkin alternatif lainnya adalah memakai pembalut kain.
  • Memisahkan sampah organik (sayur, sisa makanan, dll) dengan sampah plastik. Dirumahku, sampah sisa makanan dijadikan pupuk. Baunya lumayan sih.. busuk. Tapi tanaman jadi subur. Terus sampah yang tidak bisa terurai ya masih dibuang seperti biasa di TPS
  • Menggunakan kertas bekas untuk menulis macam-macam. Misalnya kertas yang salah print, bekas struk, dll.
Tuh, masih sedikit banget kan.. tapi impactnya lumayan buat aku. Yang paling kerasa itu beli makanan diluar. Plastiknya banyak banget kan bisa sampai berlapis-lapis. Belum lagi kalo dibungkus pake styrofoam. Kalo bawa wadah sendiri, itu bikin perasaan bersalahku hilang. OB dikantor juga udah hapal kalo aku biasanya nitip beli makan pake wadah dan tas kain sendiri. Walaupun kadang wadah itu entah punya siapa yang ada dipantry, terus aku pinjem :p (pastinya dibalikin lagi).

Akun-akun yang suka aku ikuti untuk gaya hidup zero waste itu kebanyakan dari Indonesia karena aku lebih bisa relate aja sebagai sesama orang Indonesia. Relatenya bukan soal apa-apa sih, tapi soal belanja bahan/alat supaya lebih zero waste itu kalo lokal kan lebih enak.

Zero Waste Guru (Lokal) :
@atiit
@dkwardhani
@zesrowasteadventure
@sustaination

Apa yang aku lakukan masih jauuhhh banget dari kata zero waste. Masih suka pake plastik, pake deterjen, minyak goreng, makan suka nggak habis, beli jajanan dalam kemasan, kadang ngecharge handphone dan TV suka lupa dicabut. 

Tapi keinginan itu selalu ada. Kesadaran bahwa apa yang aku lakukan punya pengaruh buat bumi ini-menjadikannya lebih baik atau buruk. Jika orang disekitar belum mendukung, tidak apa-apa. Setiap orang punya waktunya masing-masing untuk menyadari bahwa lingkungan ini perlu dijaga. Nggak ada planet lain yang bisa kita huni. Bumi cuma satu, kita rawat sampai mati nanti. 

Bacaan menarik seputar zero waste :
http://astripujilestari.com/2018/01/10/10-easiest-way-to-live-more-eco-friendly-life/
https://maurillaimron.com/zero-waste-journey/


5 komentar:

  1. Keinginan yang sama. Keinginan yg berawal dr baru punya bayi, miris dan merasa bersalah aja pake diapers sekali pake. Karena buangnya susah dan sampahnya sulit terurai. Padahal dalam sehari bisa habis rata2 4 diapers. Nyesek banget.

    Ditambah lagi kalo nifas/ haid pake pembalut tambah nyesek juga. Berpikir bahwa aku menambah deretan kontributor sampah terbanyak.

    Dan lagi, keinginan ini jg didasari esensi sbg seorang muslim yg diajarkan menjaga kebersihan dn kesucian. Memakai diapers dan pembalut sekali pakai rasanya jauh dr tuntunan hidup bersih seorang muslim. Nyampah dan mengotori lingkungan jauh dr prinsip hidup seorang muslim sejati menurut aku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak wenny. Kalo pake pembalut gitu rasanya bersalah banget.. huhuhu

      Hapus
  2. halo kak, bila ingin mengajukan kerja sama, aku bisa hubungi kemana ya? Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, kerjasama dalam bentuk apa ya? Bisa ke twitterku @myfloya atau email ke mayafloriayasmin at gmail dot com.

      Terima kasih :)

      Hapus
  3. Sering lihat yang hidup zero waste. Jadi kepengen juga.

    BalasHapus